BENGKULU – Ketua Komisi II DPRD Kota Bengkulu, Rodi, menunjukkan kepedulian dan keteladanan dengan turun langsung membersihkan tumpukan sampah yang dibuang di halaman Kantor DPRD Kota Bengkulu dan halaman Kantor Wali Kota Bengkulu, menyusul aksi protes sejumlah driver pengangkut sampah di Kota Bengkulu.
Tanpa banyak bicara, Rodi ikut bergabung bersama petugas kebersihan membersihkan sampah yang sempat menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu kenyamanan lingkungan perkantoran serta masyarakat sekitar. Aksi tersebut menjadi simbol ajakan agar persoalan apa pun dapat diselesaikan dengan cara yang bijak dan tetap menjaga kepentingan publik.
Rodi menegaskan bahwa setiap pihak memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi. Namun, ia mengajak semua pihak untuk tetap mengedepankan cara-cara yang tidak merugikan masyarakat luas.
“Setiap orang tentu punya cara masing-masing dalam menyampaikan aspirasi. Kami memahami bahwa para driver pengangkut sampah juga sedang menghadapi tekanan dan persoalan di lapangan. Namun, kebersihan dan ketertiban kota adalah tanggung jawab kita bersama yang tidak boleh terabaikan,” ujar Rodi.
Menurutnya, Kota Bengkulu adalah rumah bersama yang harus dijaga, baik oleh pemerintah, legislatif, maupun masyarakat. Karena itu, ia menilai dialog dan komunikasi terbuka menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan yang ada.
“Kota Bengkulu ini rumah kita bersama. Apa pun persoalannya, mari kita selesaikan dengan kepala dingin, saling menghormati, dan tetap menjaga kepentingan masyarakat,” lanjutnya.
Rodi juga menekankan bahwa para driver pengangkut sampah merupakan bagian penting dalam sistem pelayanan kebersihan kota. Peran mereka sangat vital dan selama ini telah bekerja keras di lapangan dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Mereka adalah mitra pemerintah dalam menjaga kebersihan kota. Karena itu, komunikasi dan penyelesaian yang manusiawi menjadi kunci agar persoalan seperti ini tidak terulang kembali,” katanya.
Aksi turun langsung Ketua Komisi II DPRD Kota Bengkulu tersebut mendapat perhatian dari berbagai pihak. Kehadirannya di tengah persoalan dinilai sebagai bentuk kepemimpinan yang tidak hanya hadir dalam rapat dan wacana, tetapi juga memberi contoh nyata di lapangan.
Rodi berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran bersama, bahwa perbedaan pendapat dan persoalan lapangan seharusnya diselesaikan dengan dialog, empati, serta kerja sama, tanpa mengorbankan kebersihan kota dan kenyamanan masyarakat.







